KISAH CINTA PANJI: PETUAH TENTANG CINTA SEJATI

Perkawinan yang menggunakan adat Jawa sering sekali menampilkan tarian Jawa Karonsih. Tarian dengan ritme lembut melambangkan kasih sayang dua sejoli ini berasal dari kata ‘kekaron atau sakloron tansah asih’. Maknanya keduanya saling mengasihi.

petilasan jayabhaya
Situs Kerajaan Kadiri.

Tak salah jika tari Karonsih sering dipertunjukkan dalam upacara perkawinan. Amsalnya, tarian ini berasal dari legenda turun temurun mengenai kisah cinta. Tarian ini pula melambangkan cinta kasih yang luar biasa antara kedua mempelai. Diharapkan dengan tarian ini kedua mempelai bisa langgeng selamanya hingga kakeh-ninen.

Berdasarkan banyak sumber, tari Karonsih menceritakan kisah cinta Dewi Sekar Taji yang memiliki nama asli Galuh Candra Kirana. Gadis ini merupakan putri Kerajaan Jenggala. Atas kecantikan Dewi Sekar Taji ini membuat jatuh cinta Panji Asmara Bangun atau Raden Inu Kertapati, putra mahkota Kerajaan Kediri. Meskipun di Kerajaan Jenggala ada dua putri yang cantik, Panji Asmara Bangun tetap memilih Dewi Sekar Taji sebagai tunangan, calon istrinya.

Usai tunangan, waktu berjalan begitu lambat. Panji Asmara Bangun merasa sangat kangen dengan calon istrinya. Bersama pengawalnya ia menuju Jenggala untuk menemui Dewi Sekar Taji. Dalam perjalanannya, ia dihadang segerombolan perampok yang sangat jahat. Segerombolan perampok itu dipimpin oleh Panji Semirang. Namun tak disangka, Panji Asmara Bangun tidak diserang oleh gerombolan perampok itu. Sebalikya, ia disambut dengan hormat dan diantarkan ke hadapan Panji Semirang.

“Mari Tuan Panji Asmara Bangun, silakan duduk.” Dengan sopan Panji Semirang menyilakan Putra Mahkota Kediri itu. Panji Asmara Bangun kaget, kenapa perlakuannya tidak sama dengan apa yang diceritakan orang-orang.

Dalam perjamuan itu, Panji Semirang mengatakan bahwa ia hanya meminta orang-orang untuk tinggal di daerahnya jika berkenan. Tidak pun tak mengapa. Atas dasar itulah, orang-orang merasa takut. Akhirnya, Panji Asmara Bangun undur diri untuk melanjutkan perjalanan ke Jenggala. Menemui tunangannya.

Mengingat Kerajaan Jenggala terkenal memiliki dua putri cantik, Panji Semirang menanyakan siapakah tunangan Putra Mahkota Kediri itu.

“Dewi Sekar Taji.” Panji Asmara Bangun mantap menjawab. Panji Semirang hanya tersenyum dan menyilakan calon raja Kediri untuk melanjutkan perjalanannya. Namun dalam hatinya, ia menyimpan pertanyaan. Ia seperti mengenal wajah yang tak asing di matanya.

Sesampai di Kerajaan Jenggala, Panji Asmara Bangun disambut gembira. Tak ketinggalan, selir raja dan putrinya Dewi Ajeng juga menyambut penuh kebanggaan. Kedatangan Pangeran Kediri itu dirayakan dengan pesta tujuh hari tujuh malam. Disela-sela pesta itulah, Panji Asmara Bangun teringat dengan tunangannya, Dewi Sekar Taji.

Selir raja menyampaikan bahwa Dewi Sekar Taji menderita penyakit lupa ingatan, hingga akhirnya meninggalkan istana, entah di mana rimbanya. Panji Asmara Bangun sungguh sangat sedih. Hingga dalam kuasa sihir sang selir, Panji Asmara Bangun akan dinikahkan dengan putrinya Dewi Ajeng. Persiapan pernikahanpun segera disiapkan.

Namun, tiba-tiba terjadi kebakaran di istana, menjadikan pengawal Panji Asmara Bangun mengajak junjungannya untuk meninggalkan Jenggala. Di tengah perjalanan, Panji Asmara Bangun baru teringat, bahwa ia dalam keadaan tersihir. Tahulah ia, selir dan putrinya, Dewi Ajeng punya niat jahat kepadanya dan Dewi Sekar Taji. Saat itulah ia teringat Panji Semirang, senyumnya adalah senyum Dewi Sekar Taji. Bergegas ia menuju daerah kekuasaan Panji Semirang. Namun Panji Semirang telah bergi bersama anak buahnya.

Panji Asmara Bangun kembali bersedih. Ia melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Kediri. Tak disangka, saat sampai di Kerajaan Gegelang, ia dimintai bantuan untuk menumpas segerombolan penjahat yang dipimpin Lasan dan Setegal.

Panji Asmara Bangun menyanggupi untuk menghadapi segerombolan penjahat itu. Singkat cerita, ia berhasil menghabisi Lasan dan Setegal bersama gerombolannya. Kejayaan Sang Panji itu dirayakan dengan pesta.

Dalam pesta itu dihadirkan seorang pendongeng cantik. Dengan penuh penghayatan, pendongeng itu mengisahkan tentang Panji Asmara Bangun yang kehilangan Dewi Sekar Taji. Panji Asmara Bangun terheran-heran, kenapa kisah dari pendongeng itu persis dengan kisah cintanya dengan Dewi Sekar Taji. Karena rasa penasarannya, ia mendesak pada raja Gegelang untuk mencari jati diri pendongeng itu. Benar. Ternyata pendongeng itu adalah Dewi Sekar Taji yang hilang selama ini.

Akhirnya, kebahagiaan melingkupi keduanya. Oleh Panji Asmara Bangun, Dewi Sekar Taji diajak kembali ke Kerajaan Kediri. Pernikahan pun akhirnya terjadi. Pesta tujuh hari tujuh malam diadakan untuk menyambut pasangan suami istri yang memiliki kisah cinta yang sangat mengharukan.

***

Dalam cerita lain dikisahkan. Panji Asmara Bangun yang sudah menjadi suami Dewi Sekar Taji itu ingin mengetahui keadaan rakyatnya secara langsung. Raja Kediri itu turun langsung di tengah kehidupan rakyatnya dengan cara menyamar. Kepergiannya tak diberitahukan kepada Dewi Sekar Taji. Karena rasa panik dan duka, Dewi Sekar Taji yang disertai inangnya nekat pergi dari istana. Mencari suaminya yang sangat dicintai.

Dalam perjalanan cinta itulah kesetiaan cinta keduanya diuji. Di mana jarak terpisah dan tidak mengetahui keberadaan masing-masing. Namun hal itu membuat Panji Asmara Bangun merasa bahagia. Akhirnya ia yang mengetahui kesetiaan istrinya pulang ke istana. Keduanya kemudian hidup rukun dalam kebahagiaan.

***

Kisah di atas hanya salah dua dari ratusan cerita tentang Panji. Menurut Prof. Achaiati selaku keynote speaker di Seminar Cerita Panji sebagai Warisan Dunia, di Perpustakaan Nasional, 28 Oktober 2014 menyebutkan, ada ratusan cerita yang mengisahkan Panji di Nusantara ini.

Sementara jika dikaitkan dengan sejarah, Panji Asmara Bangun yang menjadi raja Kediri sesudah menikahi Dewi Sekar Taji (Galuh Candra Kirana/Sri Kirana) itu bergelar Sri Maharaja Sri Kamesywara Triwikramawatara Aniwariwirya Anindhita Digjaya Uttunggadewa mulai menjabat sebagai raja.

Semasa menjadi raja, Sri Kamesywara memberikan angin segar terhadap perkembangan sastra di Kediri. Fakta ini dibuktikan dengan lahirnya karya sastra Kakawin Smradhahana karya Mpu Dharmaja. Karya yang mengisahkan tentang lahirnya Ganesha. Dewa berkepala gajah yang kemuian menjadi lambang Kediri sampai sekarang.

Selain menjelaskan kelahiran Ganesha, Kakawin Smaradahana mengisahkan terbakarnya Bhatara Kamajaya dan Dewi Ratih di ambang kelahiran Ganesha. Pasangan dewa-dewi itu kemuian menitis ke dalam diri Sri Kamesywara dan Sri Kirana yang berasal dari Jenggala.

Dari sini dapat disimpulkan, bahwa Kakawin Smaradahana merupakan persembahan (pemujaan) Mpu Dharmaja kepada raja dan permaisuri. Selanjutnya Kakawin Smaradahana kelak menjadi cikal bakal Kisah Panji yang sangat popular di tanah Jawa. Kisah cinta Panji Asmarabangun (Sri Kamesywara) dan Dewi Sekar Taji (Sri Kirana) yang melegenda di masyarakat Jawa hingga sekarang.

Terlepas dari sejarah tersebut, legenda Panji Asmarabangun dan Galuh Candrakirana atau Dewi Sekar Taji yang melegenda itu memberikan pelajaran bahwa cinta antara dua insan pada dasarnya telah ditetapkan sebelum manusia lahir. Melalui berbagai perjalanan yang tak mudah pada akhirnya keduanya akan bertemu. Itulah yang disebut jodoh. Legenda ini juga memberikan pelajaran kepada pasangan hidup. Di manapun berada, dalam kondisi seperti apapun, keduanya harus siap menghadapi ujian hidup. [Ummi Azzura Wijana]

Referensi dan Sumber Gambar:

JAKA TINGKIR, PASUKAN BUAYA, DAN KEBO DANU

Sigra milir, sang gethek sinangga bajul,
kawan dasa kang njageni,
ing ngarsa miwah ing pungkur,
tanapi ing kanan-kering,
sang gethek lampahnya alon.

Jaka Tingkir yang bernama asli Mas Karebet merupakan putra Kebo Kenanga (Ki Ageng Pengging II) atau putra angkat Nyi Ageng Tingkir. Sesudah melakukan perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan, Jaka Tingkir berhasil mengabdi ke Kesultanan Demak dan menjadi kepercayaan Sultan Trenggana.

1

Karena pengabdiannya pada Kesultanan Demak, Jaka Tingkir diangkat sebagai menantu Sultan Trenggana dan sekaligus sebagai adipati Pajang. Pasca terbutunuhnya Arya Penangsang di Sungai Bengawan Sore oleh Danang Sutawijaya yang mendapatkan dukungan Ki Pemanahan, Ki Penjawi, dan Ki Juru Mrentani; Jaka Tingkir yang tidak mendapatkan restu dari Sunan Kudus untuk menjadi raja di tanah Jawa itu menobatkan diri sebagai raja Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. Berikut kisah Jaka Tingkir selama melakukan perjuangan di masa mudanya, sebelum menjadi raja di Kesultanan Pajang:

 

Kelahiran Jaka Tingkir

Dikisahkan Adipati Handayaningrat (Ki Ageng Pengging I) yang berkuasa di wilayah Pengging memiliki 2 orang putra, yakni Kebo Kanigara (sulung) dan Kebo Kenanga (bungsu). Kebo Kanigara yang suka bertapa di kawah itu berakhir mati terbakar di puncak gunung. Sementara, Kebo Kenanga lebih suka berguru kepada Syekh Siti Jenar bersama Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Ngerang.

Dua tahun sudah. Kebo Kenanga atau yang lebih dikenal dengan Ki Ageng Pengging II itu tidak menghadap Sultan Patah di Kesultanan Demak Bintara. Mendengar berita itu, Sultan Patah memerintahkan kepada Ki Gede Wanapala untuk menyatakan ke Pengging apakah benar kalau Kebo Kananga berniat membangkang dari Demak. Sesudah berpamitan dengan Sultan Patah, Ki Gede Wanapala pergi ke Pengging.

Setiba di Pengging, Ki Gede Wanapala tidak hanya ditemui oleh Kebo Kananga; namun pula oleh Ki Ageng Tingkir, Ki Ageng Butuh, dan Ki Ageng Ngerang. Selagi mereka membicarakan tentang Kebo Kenanga yang sudah dua tahun tidak menghadap Sultan Patah, lahirlah jabang bayi dari rahim Nyi Ageng Pengging. Bayi itu diberi nama Mas Karebet.

Karena terbukti Kebo Kenanga berniat membangkang dari Kesultanan Demak, Sultan Patah memerintahkan kepada Sunan Kudus untuk memberikan hukuman mati kepada Kebo Kananga. Singkat kata, Kebo Kananga tewas sesudah mendapatkan hukuman mati dari Sunan Kudus. Empatpuluh hari sepeninggal Kebo Kananga, Nyi Ageng Pengging meninggal dunia. Sepeninggal Nyi Ageng Pengging, Mas Karebet diasuh oleh Nyai Ageng Tingkir. Karena tinggal di Desa Tingkir, Mas Karebet dikenal dengan nama Jaka Tingkir.

Di saat berusia dewasa, Jaka Tingkir ingin meninggalkan Desa Tingkir untuk menggali baik ilmu lahir maupun ilmu batin. Nyai Ageng Tingkir merestui. Karenanya sesudah mendapatkan restu dari Nyai Ageng Tingkir, Jaka Tingkir pergi ke arah timur, yakni ke arah wilayah Sela. Di Desa Sela, Jaka Tingkir berguru kepada Ki Ageng Sela.

Suatu hari, Jaka Tingkir meninggalkan Desa Sela. Pergi ke puncak Gunung Telamaya yang berada di sebelah barat laut Ngandong. Sewaktu tinggal sebulan di rumah Ki Ajar Adirasa, Jaka Tingkir bermimpi kejatuhan rembulan. Mimpi itu diceritakan kepada Ki Ageng Sela. Maka berkatalah Ki Ageng Sela, “Kelak kau akan mendapatkan drajat dan pangkat yang tinggi.”

 

Jaka Tingkir Mengabdi ke Demak

Telah sampai di garis takdir, Sultan Patah wafat. Meninggalkan istri dan putra-putrinya. Salah satu putri Sultan Patah yang ditinggalkan adalah Ratu Mas Nyawang. Ia menikah dengan seorang pangeran dari Cirebon, yakni Pangeran Sabrang Lor (Patiunus).

Sepeninggal Sultan Patah, Pangeran Sabrang Lor dinobatkan sebagai sultan kedua di Kesultanan Demak . Sepeninggal Pangeran Sabrang Lor saat bertempur melawan pasukan Portugis di Malaka, Sultan Trenggono naik tahta sebagai raja ketiga di Kesultanan Demak dengan didampingi Patih Wanasalam, yakni putra dari Patih Amangkurat.

***

Oleh Ki Ageng Sela, Jaka Tingkir yang telah disarankan mengabdi pada Kesultanan Demak Bintara itu diminta kembali ke Desa Tingkir untuk memohon restu kepada Nyi Ageng Tingkir. Nyi Ageng Tingkir memberikan restu, asalkan Jaka Tingkir bersedia menggarap tanaman padi gaga terlebih dahulu.

Ketika menggarap tanaman padi gaga di sawah, Jaka Tingkir bertemu dengan Sunan Kalijaga yang baru pulang dari Pamantingan (sekarang: Parangtritis). Kepada Jaka Tingkir, Sunan Kalijaga menyarankan agar ia mengabdi ke Kesultanan Demak.

Pertemuan dengan Sunan Kalijaga dan sarannya diceritakan Jaka Tingkir kepada Nyi Ageng Tingkir. Mendengar penuturan putranya, Nyi Ageng Tingkir memberi restu dan menyarankan agar meminta bantuan kepada Kyai Ganjur (adik kandung Nyi Ageng Tingkir) untuk menghadapkannya pada Sultan Trenggana di Kesultanan Demak. Dengan tekad yang bulat, Jaka Tingkir pergi ke Kesultanan Demak.

Singkat cerita, Jaka Tingkir yang disertai Kyai Ganjur itu telah menghadap Sultan Trenggana untuk menyampaikan hasrat pengabdiannya pada Kesultanan Demak. Sultan Trenggana menerima pengabdian Jaka Tingkir yang dapat melompati kolam dengan membelakanginya. Oleh Sultan Trenggono, Jaka Tingkir diangkat sebagai lurah tamtama.

***

Suatu hari, Kasultanan Demak tengah menerima pendaftaran tamtama. Di antara calon tamtama itu muncullah seorang lelaki jumawa dari tlatah Kedu yang berumah tinggal di Desa Pingit. Seorang calon tamtama yang selalu menyombongkan diri dan selalu menyatakan tidak mempan dengan segala jenis senjata itu bernama Dadungawuk. Karena kejumawaan Dadungawuk itu, Jaka Tingkir ingin menjajal kesaktiannya. Sekali tusukan keris dari Jaka Tingkir, Dadungawuk tewas dengan dada menyemburkan darah segar. Melumuri bumi Demak.

Peristiwa tewasnya Dadungawuk di tangan Jaka Tingkir itu membuat murkanya Sultan Trenggana. Karenanya, Sultan Trenggana mengusir Jaka Tingkir dari Kasultanan Demak. Dengan langkah gontai dan wajah muram, Jaka Tingkir meninggalkan Demak. Berjalan dan melewati Gunung Kendheng. Berjalan ke arah selatan hingga sampai wilayah Jatitengah. Di Jatitengah, Jaka Tingkir bertemu dengan Ki Ageng Butuh. Oleh Ki Ageng Butuh, Jaka Tingkir dibawa pulang ke Gunung Beluk.

Selama beberapa hari, Jaka Tingkir tinggal di rumah Ki Ageng Butuh. Oleh Ki Ageng Butuh dan Ki Ageng Ngerang, Jaka Tingkir disarankan untuk berziarah di makam ayahnya, yakni Ki Ageng Pengging. Dari makam ayahnya, Jaka Tingkir mendapatkan petunjuk agar berjalan ke arah tenggara yakni ke Desa Getasaji. Di Desa itulah, Jaka Tingkir akan mendapatkan petunjuk dari Ki Buyut Banyubiru.\

 

Jaka Tingkir Bertarung melawan Buaya

Semasa Majapahit dibedah oleh pasukan Kesultanan Demak, keturunan Brawijaya mengungsi ke segala penjuru. Salah satu keturunan Brawijaya tersebut adalah Raden Jombalika yang mengungsi di Gunung Dumilah dan berakhir di Gunung Lawu. Raden Jombalika memiliki putra bernama Mas Monca yang diangkat sebagai anak oleh Ki Buyut Banyubiru.

2.jpg

Perjalanan Jaka Tingkir sampai di Desa Getasaji. Oleh Ki Buyut Banyubiru, Jaka Tingkir dipersaudarakan dengan Mas Monca. Pada waktu yang tepat, Jaka Tingkir yang diramalkan bakal menjadi raja di Pajang oleh Ki Buyut Banyubiru itu diminta kembali mengabdi ke Kasultanan Demak. Dalam kepergiannya ke Kesultanan Demak, Jaka Tingkir disertai Mas Monca dan kedua putra Ki Buyut Majasta, yakni Jaka Wila dan Wuragil.

Sesudah mendapatkan restu dari Ki Buyut Banyubiru, Jaka Tingkir beserta Mas Monca, Jaka Wila, dan Wuragil menyusuri Sungai Dengkeng dengan gethek. Dari Bengawan Picis, gethek itu terus melaju ke Kedung Srengenge. Di kedung itu, Jaka Tingkir dihadang pasukan buaya sebanyak 200 ekor. Pasukan buaya itu dipimpin oleh raja buaya putih bernama Baureksa, dan patihnya bernama Jalumampang.

Pertarungan antara Jaka Tingkir dan ketiga kawannya melawan pasukan buaya itu tidak dapat dihindari lagi. Berkat kesaktiannya, Jaka Tingkir beserta ketiga kawannya itu dapat menaklukkan pasukan buaya. Patih Jalumampang dan 70 buaya tewas di tangan Mas Monca. Baureksa dan 40 buaya yang kalah perang itu kemudian mengantarkan Jaka Tingkir beserta ketiga kawannya ke daratan. Dari tepian Kedung Srengenge, rombongan Jaka Tingkir berjalan ke arah Desa Butuh. Dari Desa Butuh, mereka menuju Dusun Bulu.

 

Kerbau Mengamuk di Pesanggrahan Prawata

Dari Dusun Bulu; Jaka Tingkir, Mas Monca, Jaka Wila, dan Wuragil berjalan ke barat laut ke arah Majenang. Dari Majenang, mereka bergerak kembali ke arah Grobogan. Tempat yang berdekatan dengan pesanggrahan (tempat peristirahatan) Sultan Trenggana di Gunung Prawata.

Di dalam hutan, Jaka Tingkir mencari kebo ndanu (kerbau ndanu). Sesudah mendapatkannya, Jaka Tingkir memasukkan tanah berisi jampi-jampi (mantram sakti) yang diberikan oleh Ki Buyut Banyubiru ke dalam mulut kerbau itu. Seketika kerbau yang menjadi gila itu bergerak ke pesanggrahan Prawata dan mengamuk bagai bantheng ketaton (benteng terluka).

Pesanggrahan Prawata seketika menjadi porak poranda. Orang-orang yang tinggal di sekitarnya berlari tunggang langgang untuk mencari selamat. Para prajurit yang sakti mandraguna tidak kuasa menghadapi amukan kerbau itu. Banyak sudah orang yang menjadi korban dan terluka.

Menyaksikan kelebat Jaka Tingkir, Sultan Trenggana segera meminta bantuannya untuk meredam amukan kerbau ndanu itu. Bila Jaka Tingkir dapat menaklukkan kerbau ndanu, Sultan Trenggana akan mengampuni kesalahannya.

Tanpa berpikir panjang, Jaka Tingkir mengambil tindakan. Membunuh kerbau ndanu itu hanya dengan satu pukulan. Berkat jasanya itu, Jaka Tingkir kembali diangkat oleh Sultan Trenggana sebagai kepala tamtama. Kelak, Jaka Tingkir pun dinikahkan oleh Sultan Trenggana dengan salah satu putrinya yang bernama Ratu Mas Cempaka.

 

Jaka Tingkir menjadi Adipati di Pajang

Sultan Trenggana memiliki enam orang putra, yakni: pertama adalah perempuan yang menikah dengan Pangeran Langgar (putra Ki Ageng Sampang). Kedua adalah Pangeran Arya Prawata. Ketiga adalah Ratu Mas Kencana (Ratu Kalinymat). Keempat adalah Ratu Mas Kambang yang menikah dengan putra saudaranya di Cirebon. Kelima adalah Ratu Mas Cempaka yang menikah dengan Jaka Tingkir. Keenam adalah Pangeran Timur.

 

Selain dinikahkan dengan Ratu Mas Cempaka, Jaka Tingkir diangkat oleh Sultan Trenggana sebagai adipati di Pajang. Lambat-laun, Kadipaten Pajang yang terletak di sebelah timur Pengging atau sebelah barat daya dari Desa Butuh itu dapat menguasai beberapa wilayah, antara lain: Kedu, Begelen, dan Banyumas. Sementara, Kadipaten Jipang yang dikuasai Arya Penangsang (putra Pangeran Sedalepen) belum takluk pada Kadipaten Pajang. Sesudah Arya Penangsang tewas di tangan Danang Sutawijaya, adipati Hadiwijaya menobatkan diri sebagai raja di Pajang bergelar Sultan Hadiwijaya. (uaw/plt)

 

Sumber Gambar:

 

BABAD MATARAM: BEKISAR BETINA MENJADI JANTAN

Mengetahui kalau Pangeran Adipati Anom dan Sahoyi telah menjalin hubungan cinta asmara, Prabu Amangkurat yang menghubungkan peristiwa itu dengan isyarat bekisar betina menjadi jantan.

IMG_8207.jpg
Situs Keraton Mataram di Kerta, Plered, Bantul.

Prabu Amangkurat memerintahkan kepada kedua abdinya yang bernama Wangsatruna dan Yudakarti untuk mencarikan seorang wanita di mana akan dijadikan istri. Wanita itu berada di tempat yang berair harum di kawasan Surabaya. Sesudah memohon diri pada Prabu Amangkurat, kedua abdi itu berangkat ke Surabaya.

Tempat berair harum itu telah diketemukan oleh Wangsatruna dan Yudakarti. Mereka kemudian mencermati pada setiap wanita berwajah rupawan yang lalu-lalang di tempat itu. Namun tidak seorang pun dari mereka yang pantas untuk menjadi pendamping Prabu Amangkurat. Keduanya kemudian menemui Ki Mangunjaya yang merupakan orang kepercayaan Pangeran Surabaya.

Kepada Wangsatruna dan Yudakarti mengatakan, bahwa Ki Mangunjaya memiliki anak gadis berparas cantik dan bertubuh sempurna namun sayangnya belum akil-baliq. Mendengar perkataan dari Mangunjaya, kedua utusan Prabu Amangkurat itu sontak berbinar wajahnya. Terlebih manakala menyaksikan anak gadis yang bernamakan Sahoyi itu, mereka terbengong-bengong dan sekian lama tidak dapat melontarkan sepatah kata. Mereka kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai tanda takjub.

Lantaran berpikir bahwa Sahoyi pantas menjadi istri Prabu Amangkurat, maka Wangsatruna dan Yudakarti membawanya ke Mataram. Sebelum menghadap Prabu Amangkurat, Wangsatruna dan Yudakarti bertemu dengan Wirareja. Sesudah itu, mereka bertiga membawa Sahoyi di hadapan Prabu Amangkurat. Melihat kecantikan wajah dan kesempurnaan gadis itu, Prabu Amangkurat berkenan untuk menjadikannya istri. Namun karena belum dewasa, Prabu Amangkurat menitipkannya pada istri Wirareja (Nyi Wirareja) di ndalem Kawirarejan.

***

Di lain kisah, istri Pangeran Singasari melakukan perselingkungan dengan Raden Dobras. Kepada istri Pangeran Singasari itu, Raden Dobras berjanji, “Bila aku kelak menjadi sultan di Martaram, maka kau akan aku jadikan permaisuri.” Namun sebelum janji itu ditepati, perselingkuhan antara istri Pangeran dan Raden Dobras telah diconangi oleh Pangeran Singasari.

Tanpa berpikir jauh, Pangeran Singasari segera mengambil tindakan. Membawa Raden Dobras ke hutan dan membunuhnya. Sesudah Raden Dobras tidak lagi bernyawa, mayatnya dimasukkan ke dalam sumur. Untuk menghilangkan jejaknya, sumur itu kemudian ditanami pohon pisang.

***

Pada kisah lainnya lagi, Prabu Amangkurat ingin menjodohkan Pangeran Adipati Anom dengan putri Cirebon. Di waktu yang berbeda, Pangeran Adipati Anom yang berkunjung di Ndalem Kawirarejan sangat tertarik dengan seorang anak gadis berwajah cantik dan bertubuh sempurna. Kepada gadis Sahoyi itu, Pangeran Adipati Anom jatuh cinta. Demikian pula Sahoyi pada Pangeran Adipati Anom.

Ayam Bekisar Cemani-Black-Bekisar-fotoduniahewan.blogspot.com.jpg
Bekisar cemani.

Mengetahui kalau Pangeran Adipati Anom dan Sahoyi telah menjalin hubungan cinta asmara, Prabu Amangkurat yang menghubungkan peristiwa itu dengan isyarat bekisar betina menjadi jantan segera mengambil tindakan. Membunuh Pangeran Surabaya dan 40 orang keluarganya. Membunuh Wirareja beserta istrinya. Memerintahkan Pangeran Adipati Anom untuk membunuh Sahoyi. Sesudah Sahoyi tewas, Pangeran Adipati Anom kemudian diusir oleh Prabu Amangkurat ke Lipura. (uaw/plt)

 

Sumber gambar:

MAGELANG DAERAH PERDIKAN DI ERA KERAJAAN MEDANG

 

Berdasar beberapa prasasti peninggalan bersejarah yang berada di Magelang tersebut menguatkan bahwa Magelang merupakan daerah perdikan dan menjadi bagian dari sejarah kerajaan Medang.

Bicara Magelang seperti tak ada habisnya. Ibarat mata air yang terus mengalirkan kesejukan airnya yang jernih. Banyak sejarah tertulis di wilayah yang berada di tengahnya Pulau Jawa ini. Sebut saja Gunung Tidar sebagai Pakuning Tanah Jawa, di sini ada sejarah penyebaran Agama Islam di Pulau Jawa. Prasasti Tuk Mas yang merupakan prasasti yang dipahat pada batu alam besar dan berdiri di dekat mata air. Ditemukan di Dakawu, Lebak, Grabag, Magelang. Prasasti ini ditulis menggunakan aksara Pallawa dan dalam bahasa Sanskerta. Diperkirakan prasasti ini dikeluarkan pada abad ke-6 hingga ke-7 M.

Ada lagi Prasasti Canggal di halaman Candi Gunung Wukir di Kadiluwih, Salam, Magelang. Prasasti ini disebut juga Prasasti Gunung Wukir atau Prasasti Sanjaya. Di Kota Magelang juga ditemukan Prasasti Mantyasih yang ditemukan di Meteseh, Magelang Tengah, Magelang. Prasasti ini disebut juga Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu yang berangka tahun 828 Saka atau 907 M.

Banyak sekali jejak sejarah ditemukan di sini. Artinya, zaman dahulu Magelang merupakan salah satu tempat di mana kerajaan Medang berada. Di antara prasasti-prasasti tersebut menyebutkan hal-hal yang saling berkaitan. Mulai dari Kartikeyasingha dan Ratu Jay Shima permaisurinya (Kalingga) hingga Rakai Watukura Dyah Balitung (Medang i Poh Pitu).

Prasasti Canggal

Prasasti Canggal yang dikeluarkan pada tahun 732 pada bait 10-11 menyebutkan, Sanjaya bukan merupakan putra Sanna, melainkan keponakannya. Hal ini dapat dipastikan berdasarkan kutipan prasasti Canggal pada bait 10-11, sebagai berikut:

canggal.jpg
Prasasti Canggal.

“Pengganti Sanna yaitu keponakannya bernama Sanjaya yang diibaratkan matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan oleh Sanna kepada Sanjaya, tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha).”

Kutipan di muka menegaskan bahwa Sanjaya merupakan pewaris tahta Kerajaan Medang dari Sanna. Sementara, berdasarkan Carita Parahayangan (naskah Sunda Kuno) yang digubah pada akhir abad ke-16 tersebut mengisahkan sejarah tanah Sunda, terutama mengenai kekuasaan di dua ibukota Kerajaan Sunda, yaitu Galuh dan Pakuan. Naskah tersebut pula menerangkan bahwa Sanjaya yang sewaktu menjadi raja Sunda-Galuh memiliki dua putra dari permaisuri Teja Kencana (cucu Mandi Minyak) yaitu Rakryan Panaraban (Tamperan) dan Resi Guru Demuwan.

Selain itu, Sanjaya yang kemudian menjadi raja Kalingga Utara juga memiliki seorang putra dari Dewi Sudiwara bernama Rakai Panangkaran. Namun menurut sebagian sejarawan, Rakai Panangkaran di sini tidak mengacu pada Dyah Pancapana yang melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Sanjaya. 

Prasasti Mantyasih

Dalam prasasti Mantyasih memuat daftar silsilah raja-raja Medang sebelum Rakai Watukura Dyah Balitung. Prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Dyah Balitung yang merupakan menantu Mpu Teguh tersebut (raja Medang pasca Dyah Lokapala) sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Medang.

Prasasti Mantyasih II
Prasasti Mantyasih.

Dalam prasasti juga disebutkan bahwa desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Dyah Balitung sebagai sima swatantra (desa perdikan/daerah bebas pajak). Di kampung Meteseh saat ini masih terdapat lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan sima swatantra. Selain itu disebutkan pula tentang keberadaan Gunung Susundara (Gunung Sindara) dan Wukir Sumbing (Gunung Sumbing).

IMG_9174.jpg
Lumpang batu di kampung Matesih.

Sebelum pemerintahan Dyah Balitung, Medang yang berdiri pada tahun 717 diwariskan Sanna kepada Sanjaya (Rakai Mataram). Hal ini termaktub dalam prasasti Canggal. Dari beberapa masa pemerintahan, Kerajaan Medang berpindah ibukota beberapa kali. Dari Poh Pitu dipindahkan ke Mamrati (Mamratipura) oleh Rakai Pikatan atau Rakai Patapan Mpu Manuku. Pindahnya ibukota ini, maka Mpu Manuku bergelar Rakai Mamrati.

Berdasar beberapa prasasti peninggalan bersejarah yang berada di Magelang tersebut menguatkan bahwa Magelang merupakan daerah perdikan dan menjadi bagian dari sejarah kerajaan Medang.

Adapun beberapa prasasti yang disebutkan di muka masih dapat dilihat dan dipelajari sejarahnya hingga saat ini. Jika Anda dari arah Yogyakarta, Prasasti Mantyasih yang berada di dukuh Meteseh tersebut dapat ditemui di arah barat alun-alun Kota Magelang. Sedangkan Prasasti Canggal dapat ditemui dari arah Yogyakarta ke arah utara. Tepatnya arah jalan Yogya-Magelang di Kadiluwih, Salam, Magelang, Jawa Tengah. (UmmiAzzuraWijana)

Daftar Pustaka:

Foto:

KESAKTIAN RADEN RANGGA

Orang-orang Banten datang ke Mataram untuk menguji kesaktian Senapati Ngalaga. Sebelum bertemu dengan Senapati Ngalaga, orang-orang Banten itu dihadang Raden Rangga. Hingga terjadilah pertarungan yang tidak sebanding. Dengan mudah, Raden Rangga menaklukkan orang-orang Banten itu. Sebagian orang Banten yang selamat dari amukan Raden Rangga pulang ke asalnya.

Melihat sikap Raden Rangga yang suka memamerkan kesaktiannya, Senapati Ngalaga tak berkenan dan murka. Karenanya kepada Raden Rangga, Senapati Ngalaga memerintahkan untuk mengerahkan kesaktiannya dengan mematahkan salah satu kakinya. Tanpa berpikir jauh, Raden Rangga melaksanakan perintah ayahndanya. Lantaran sakit, Senapati Ngalaga melemparkan Raden Rangga dengan salah satu kakinya.

DSC_6780.jpg

DSC_6783.jpg

Sesudah bangkit dari kejatuhan, Raden Rangga enyah dari hadapan Senapati Ngalaga. Menuju pintu benteng belakang. Karena pintu terkunci, Raden Rangga membenturkan tubuhnya ke benteng hingga berlubang sebesar manusia. Dengan tekad bulat, Raden Rangga berjalan ke arah timur laut. Tiada tempat yang bakal dituju, selain Pati.

Sesampai di Pati, Raden Rangga disambut dengan hangat oleh Adipati Pragola pamannya. Selama tinggal di Pati, Raden Rangga mendengar ada seorang yang tengah bertapa. Oleh Raden Rangga, pertapa itu dicabik-cabik tubuhnya hingga tewas. Sesudah membunuh pertapa itu, Raden Rangga pulang ke Mataram untuk menghadap Senapati Ngalaga.

Di tengah perjalanan, Raden Rangga bertemu dengan seekor naga yang sangat besar. Naga itu kemudian melilit erat tubuh Raden Rangga hingga kelelahan sendiri. Sesudah naga sebesar pohon kelapa itu kehabisan tenaganya, Raden Rangga memukul kepala naga itu dengan tangan kosong hingga mampus. Tak lama kemudian, Raden Rangga menderita sakit. Dalam usianya yang keempatbelas, Raden Rangga wafat. (uaw/plt)

 

Sumber Foto:

 

 

MENDUNG DI LANGIT KASUNANAN KARTASURA

Di penangkilan, Sunan Pakubuwana dihadap  pasukan keamanan raja serta para prajurit Kartasura yang tak turut berperang melawan pasukan Demak. Kepada Tumenggung Wirajaya, Sunan Pakubuwana bertanya, “Bagaimana kabar prajurit Kartasura yang tengah menghadapi pasukan Demak? Apakah mereka di atas angin? Apakah mereka terdesak musuh?”

night thought.jpg

“Ampun Kangjeng Sunan,” Tumenggung Wirajaya memberi jawaban dengan nada sendu. “Kabar yang hamba terima, prajurit Kartasura yang berada di Banyudana telah melarikan diri, sesudah pasukan Demak berada di atas angin. Pangeran Buminata, Pangeran Dipanagara, Pangeran Singasari, Pangeran Rangga, Pangeran Mangkubumi, Pangeran Arya Pamot, Pangeran Prangwadana, Pangeran Arya Mataram, Pangeran Arya Panular, Pangeran Danupaya, dan Pangeran Slarong telah meninggalkan medan laga.

Sunan Pakubuwana menghela napas panjang. Mengalihkan pandang ke arah Bangsataka. “Hei, Bangsataka. Berapa prajurit yang tersisa di Kartasura?”

“Kurang lebih seribu prajurit, Kangjeng Sunan.”

“Baiklah.” Sunan Pakubuwana beranjak dari singgasana. “Ketika para panglima perang sudah tak dapat diandalkan, aku sendiri yang akan memimpin para prajurit Kartasura. Menghadapi musuh dari Demak.”

Sebelum Sunan Pakubuwana meninggalkan penangkilan, Surawiguna dan Dipayuda menghadapnya. “Ampun, Kangjeng Sunan. Seluruh panglima perang yang Kangjeng Sunan perintahkan untuk menghadapi pasukan Demak telah meninggalkan medan laga.”

“Aku sudah tahu. Sekarang keluarlah kalian ke alun-alun! Aku sendiri yang akan memimpin kalian. Menghadapi orang-orang Demak.”

Selepas Surawiguna, Dipayuda, Wirajaya, dan lainnya dari penangkilan; Sunan Pakubuwana memasuki kedaton. Sesudah mengenakan pakaian panglima perang dan membawa tombak Kyai Plered, Sunan Pakubuwana yang disertai Raden Ayu Kilen melangkah tegap ke alun-alun.

Tepat pada hari Jum’at, Sunan Pakubuwana yang menobatkan diri sebagai panglimna perang itu membawa pasukan Kartasura menuju medan laga. Dengan kuda putih Kyai Wijayacapa, Sunan Pakubuwana yang diiringi pasukan Kartasura dan Kumpeni di bawah kepemimpinan Kapten Hogendrop siaga menyongsong musuh dari Demak.

Di bawah kepemimpinan Sunan Pakubuwana, pasukan Kartasura yang didukung Kumpeni bertempur melawan pasukan Demak. Karena kalah dalam jumlah prajurit, pasukan Kartasura berhasil dipukul mundur oleh pasukan Demak. Sunan Pakubuwana meninggalkan istana Kartasura dan berlari ke arah timur pada hari Sabtu, 27 Rabiulakhir, tahun Alip.

Pelarian Sunan Pakubuwana beserta pasukannya sampai di Makamdawa. Dari Makamdawa, Sunan Pakubuwana yang akan mengungsi di wilayah Pranaraga itu bergerak ke Karangasem, Pasadakan, Pakudusan, Windan, Kedunggudel, Sungai Jenes, Kadiwekan, Babad, Pagedangan, Pamanggaran, Langsur, Trajukuning, Boga, Jamurdipa, Sagawe, dan Magetan. Sesampai di Pranaraga, Sunan Pakubuwana mendirikan istana di sana.

Sepeninggal Sunan Pakubuwana, Sunan Amangkurat Prabu Kuning beserta pasukannya menduduki istana Kartasura. Seluruh harta-benda di dalam istana  dijarah oleh orang-orang Cina. Sementara para istri, putri, dan saudara perempuan Sunan Pakubuwana yang tertinggal di Kartasura, Ratu Ageng, Ratu Maduretna, Raden Ayu Kaluwak, Raden Ajeng Uwuh Ngularan, Mas Ayu Pujawati, Raden Ajeng Dewi, Raden Ajeng Jabir, Raden Ajeng Sarwa, Raden Ayu Andayasmara, Pujawati, Citrawati, Gandawati, Tejawati, Puspawati, Tiknawati, Surtikanti, Smaraningsih, Tilarsih, Tiksnarengga, Renggasari, Andayawati, Retnasari, Wandangsari, Retnadi, Erawati, Andayaningsih, Srenggara, Turunsih, dan lainnya dalam cengkeraman Tumenggung Martapura, Tumenggung Mangononeng, dan Tumenggung Padmanagara.

Sewaktu Sunan Amangkurat Prabu Kuning menduduki Kartasura, ketiga kerabat Sunan Pakubuwana – Pangeran Buminata, Pangeran Arya Mataram, dan Pangeran Singasari – kembali ke Kartasura untuk menyerahkan diri. Pangeran Dipanagara dan Pangeran Arya Pamot mengikuti pelarian Sunan Pakubuwana ke Pranaraga. Pangeran Danupaya, Pangeran Rangga, Pangeran Slarong, Pangeran Prangwadana, dan Pangeran Mangkubumi mengungsi di Dusun Margasari yang berada di wilayah Mataram (Ngeksiganda). Di sana, kelima saudara Sunan Pakubuwana itu menggalang pasukan. (uaw/plt)

MAKNA SIMBOLIK PERSUAAN SUNAN KALIJAGA DAN SUNAN BONANG

Sunan Bonang merupakan guru pertama Sunan Kalijaga. Dalam persuaannya dengan Sunan Bonang itu dituturkan melalui kisah menarik. Di katakan demikian, karena persuaan kedua sunan tersebut mengandung makna simbolik yang sangat dalam. Sebelum mengupas mengenai makna simbolik, terlebih dahulu kita kisahkan persuasaan mereka di hutan Jati Wangi.

Kisah

Seorang lelaki berjubah putih tengah melintasi hutan Jatiwangi dengan membwa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Raden Syahid (Sunan Kalijaga atau Brandal Lokajaya) yang mengawasinya dari kejauhan itu membatin bahwa tongkat itu terbuat dari emas. Tak dapat ditahan lagi, Raden Syahid mengejar dan menghadang lelaki berjubah putih itu yang tak lain Sunan Bonang. “Hei, lelaki berjubah putih! Aku pikir, kau tak buta dan masih perkasa. Kenapa kau berjalan dengan menggunakan tongkat?”

goa-6.jpg
Pertemuan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Mendengar pertanyaan Raden Syahid, Sunan Bonang tersenyum. “Hei, Kisanak. Perjalanan hidup manusia itu tidak menentu. Terkadang berada di tempat yang terang. Terkadang berada di tempat yang kelam. Dengan tongkat ini, aku tak akan tersesat ketika dalam kegelapan.”

“Tapi, hari masih terang. Sekalipun tanpa tongkat, kau tak akan tersesat.”

Sunan Bonang kembali tersenyum. “Ketahuilah, Kisanak! Bagiku, tongkat adalah pegangan hidup yang dapat memberikan petunjuk bagi manusia yang terkadang jiwanya diselimuti kegelapan.”

Bagi Raden Syahid, jawaban dari Sunan Bonang yang mengandung nilai-nilai filosofis itu tetap tak menggugah lelap jiwanya. Karena jiwa Raden Syahid telah dirajai oleh nafsunya sendiri untuk memiliki tongkat itu. Tanpa sepatah kata, Raden Syahid merebut tongkat itu dari tangan Sunan Bonang. Akibatnya, Sunan Bonang jatuh tersungkur dan tongkat telah berpindah ke tangan Raden Syahid.

Dengan susah payah, Sunan Bonang bangun dan air matanya meleleh di pipinya. Seusai mengamati tongkat yang ternyata bukan terbuat dari emas, Raden Syahid mengembalikan tongkat itu seraya berkata, “Jangan menangis! Aku kembalikan tongkat ini kepadamu.”

“Aku menangis bukan karena tongkat yang kau ambil paksa dariku, namun lantaran dosa sesudah aku tak sengaja mencerabut rumput sewaktu terjatuh tadi.”

“Hanya sedikit rumput yang tercerabut, kau sudah merasa bedosa?

“Ya. Sebab aku telah mencerabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikan rumput ini untuk makan ternak, tak apalah. Namun bila rumput ini tak dimanfaatkan untuk suatu kemaslahatan, berdoasalah diriku.”

Mendengar jawaban Sunan Bonang, hati Raden Syahid sedikit tergetar.

“Hei, Kisanak. Sesungguhnya apa yang tengah kau cari di dalam hutan ini?”

“Harta.”

“Buat apa?”

“Aku berikan pada fakir miskin dan orang-orang yang kelaparan.”

“Sungguh mulia hatimu! Namun, caramu keliru.”

“Apa maksudmu?”

“Jawab pertanyaanku! Jika kau mencuci pakaian yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu dibenarkan?”

“Tidak. Karena, hal itu hanya akan menambah kotor.”

“Demikian pula dengan amal yang kau lakukan. Maksudmu ingin beramal sholeh dengan bershodaqoh pada sesama, namun karena caramu yang tidak benar, maka shodaqohmu tidak akan membawa manfaat bagi orang lain. Allah adalah dzat yang maha baik. Dia hanya menerima amal dari barang yang hahal.”

Mendengar penjelasan dari Sunan Bonang, Raden Syahid tercengang. Kesadaran akan perbuatannya yang keliru selama ini mulai muncul dalam jiwanya. Perlahan namun pasti, Raden Syahid mulai tertarik pada lelaki berjubah putih yang wajahnya tampak lembut berwibawa dan mencerminkan jiwanya yang penuh kasih.

“Sekarang banyak hal yang terkait dengan usaha mengentaskan kemiskinan. Namun kau tak bisa mengubahnya hanya dengan memberi orang-orang miskisn itu berupa makanan dan uang. Kau harus memperingatkan kepada para penguasa yang dzhalim agar bersedia untuk mengubah cara pemerintahan yang sewenang-wenang itu. Kau juga harus membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf hidup sendiri. Berdikari. Berdiri dengan kaki sendiri.”

Raden Syahid semakin terpana.

“Kalau kau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu!” Sunan Bonang menunjuk pada buah-buah aren yang sontak berubah wujud menjadi butiran-butiran emas. “Ambilah sesukamu!”

Raden syahid yang terpukau itu kemudian memanjat pohon aren. Namun sewaktu butiran-butiran emas itu akan dipetiknya sontak berubah menjadi buah-buah aren. Mendadak buah-buah aren itu rontok. Berjatuhan bersama jatuhnya Raden Syahid ke tanah. Raden Syahid pingsan dengan kepala tertimpa buah-buah aren itu.

Ketika siuman, Raden syahid bangkit. Mencari Sunan Bonang yang tak lagi berada di tempat itu. Tanpa berpikir panjang, Raden Syahid mengejar Sunan Bonang. Akhirnya, Raden Syahid dapat menyusul Sunan Bonang yang telah berdiri di tepian sungai besar dan dalam. “Tunggu, Tuan. Sudikah Tuan menerimaku sebagai murid?

“Menjadi muridku?” tanya Sunan Bonang. “Kau mau belajar apa?”

“Apa saja asal Tuan sudi menerimaku sebagai murid.”

“Persyaratan untuk menjadi muridku sungguh berat. Apakah kau bersedia memenuhi persyaratannya?”

“Bersedia, Tuan.”

Sunan Bonang menancapkan tongkatnya di tepian sungai. Oleh Sunan Bonang, Raden Syahid diperintahkan untuk menunggui tongkat itu. Raden Syahid tidak diperbolehkan beranjak dari tempat itu, sebelum Sunan Bonang kembali menemuinya. Selanjutnya, Sunan Bonang menyebrangi sungai itu dengan berjalan di atas air tanpa basah sepasang kakinya.

Selepas Sunan Bonang, Raden Syahid bersila dalam hening samadi. Sesudah tiga tahun lamanya bersamadi hingga tubuh Raden Syahid dibalut akar dan rumputan, datanglah Sunan Bonang dan membangunkannya dengan suara adzan. Sesudah Raden Syahid terbangun, dicuci tubuhnya, dan diberi pakaian baru. Semenjak itu, Raden Syahid menjadi murid Sunan Bonang.

.          

Makna Simbolik

Terdapat asumsi bahwa kisah tentang pembegalan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga terhadap Sunan Bonang bukan kisah sebenarnya. Akan tetapi, kisah tersebut sekadar merupakan pelukisan secara simbolik saat Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang. Guru dan sekaligus kerabatnya sendiri.

Dari kisah di muka yang akan dibeber maknanya diharapkan mampu memberi pencerahan kepada kita semua tentang esensi di balik kisah tersebut. Adapun pembeberan tentang beberapa makna simbolik yang tersirat di balik kisah tersebut, sebagai berikut:

Hutan Jatiwangi

Hutan Jatiwangi sesungguhnya mengandung makna simbolik tentang suatu tempat yang beraroma harum dan berfungsi untuk membeber pengetahuan atau ilmu sejati (ilmu ma’rifat). Dengan demikian, pertemuan antara Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga yang waktu itu menggunakan nama samaran Brandal Lokajaya tidak berada di hutan, melainkan di padepokan. Suatu tempat yang dihormati dan difungsikan untuk membeber ilmu atau pengetahuan sejati.

Brandal Lokajaya

Brandal Lokajaya yang digunakan sebagai nama samaran Sunan Kalijaga sekadar menunjukkan ketersohoran namanya, keunggulan kesaktiannya, serta kedahagaannya terhadap ilmu pengetahuan dari orang lain. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa Sunan Kalijaga tidak pernah bermaksud membegal barang, melainkan hanya ingin mencerap ilmu pengetahuan dari Sunan Bonang.

Tongkat emas

Tongkat emas milik Sunan Bonang yang ingin dimiliki oleh Sunan Kalijaga bukan sekadar tongkat terbuat dari emas. Akan tetapi, tongkat emas itu dimaknai sebagai petuah-petuah Sunan Bonang yang dapat digunakan sebagai petunjuk hidup. Petuah-petuah yang bersumber dari suatu pemahaman atas firman-firman Tuhan dalam Al-Qur’an. Petuah-petuah yang hanya dapat dipahami dengan interpretasi jernih dan bukan dengan secara harfiah.

Buah kolang-kaling berubah butiran-butiran emas

Bila hati nurani telah dikuasai oleh hawa nafsu, maka manusia tidak dapat lagi membedakan mana loyang mana emas, mana yang sejati mana yang palsu. Dengan demikian, Sunan Kalijaga yang waktu itu dikuasai oleh hawa nafsunya, maka tidak bisa membedakan lagi mana buah aren dan mana butiran emas. Akibatnya bukan kebahagiaan yang dipetik oleh Sunan Kalijaga, melainkan kesengsaraan yang menimpa dirinya.

Menyeberangi sungai tanpa basah kakinya

Sesudah mampu memberikan penyadaran pada Sunan Kalijaga dari perbuatan buruknya, Sunan Bonang meninggalkannya dengan menyeberangi sungai besar dan dalam tanpa basah kedua kakinya. Artinya, Sunan Bonang telah mampu memberikan penyadaran atau ilmu pengetahuan kepada Sunan Kalijaga tanpa menyingung perasaannya. Apa yang dilaksanakan Sunan Bonang ini selaras dengan peribahasa Jawa: “Entuk iwak, ora buthek banyune.” 

Menunggui tongkat dengan bertapa tiga  tahun di tepian sungai

Sepeninggal Sunan Bonang, Sunan Kalijaga memenuhi persyaratan untuk menjadi muridnya yakni dengan menunggui tongkat dengan bertapa selama tiga tahun di tepian sungai itu. Artinya, Sunan Kalijaga harus tetap teguh seperti tongkat dan tidak tergiur dengan arus zaman di dalam upaya menjernihkan hati dan pikiran. Wadah yang harus dipersiapkan oleh Sunan Kalijaga, sebelum Sunan Bonang mengisinya dengan ilmu pengetahuan sejati. (uaw/plt)

 

Sumber Gambar: