MAKNA SIMBOLIK PERSUAAN SUNAN KALIJAGA DAN SUNAN BONANG

Sunan Bonang merupakan guru pertama Sunan Kalijaga. Dalam persuaannya dengan Sunan Bonang itu dituturkan melalui kisah menarik. Di katakan demikian, karena persuaan kedua sunan tersebut mengandung makna simbolik yang sangat dalam. Sebelum mengupas mengenai makna simbolik, terlebih dahulu kita kisahkan persuasaan mereka di hutan Jati Wangi.

Kisah

Seorang lelaki berjubah putih tengah melintasi hutan Jatiwangi dengan membwa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Raden Syahid (Sunan Kalijaga atau Brandal Lokajaya) yang mengawasinya dari kejauhan itu membatin bahwa tongkat itu terbuat dari emas. Tak dapat ditahan lagi, Raden Syahid mengejar dan menghadang lelaki berjubah putih itu yang tak lain Sunan Bonang. “Hei, lelaki berjubah putih! Aku pikir, kau tak buta dan masih perkasa. Kenapa kau berjalan dengan menggunakan tongkat?”

goa-6.jpg
Pertemuan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga.

Mendengar pertanyaan Raden Syahid, Sunan Bonang tersenyum. “Hei, Kisanak. Perjalanan hidup manusia itu tidak menentu. Terkadang berada di tempat yang terang. Terkadang berada di tempat yang kelam. Dengan tongkat ini, aku tak akan tersesat ketika dalam kegelapan.”

“Tapi, hari masih terang. Sekalipun tanpa tongkat, kau tak akan tersesat.”

Sunan Bonang kembali tersenyum. “Ketahuilah, Kisanak! Bagiku, tongkat adalah pegangan hidup yang dapat memberikan petunjuk bagi manusia yang terkadang jiwanya diselimuti kegelapan.”

Bagi Raden Syahid, jawaban dari Sunan Bonang yang mengandung nilai-nilai filosofis itu tetap tak menggugah lelap jiwanya. Karena jiwa Raden Syahid telah dirajai oleh nafsunya sendiri untuk memiliki tongkat itu. Tanpa sepatah kata, Raden Syahid merebut tongkat itu dari tangan Sunan Bonang. Akibatnya, Sunan Bonang jatuh tersungkur dan tongkat telah berpindah ke tangan Raden Syahid.

Dengan susah payah, Sunan Bonang bangun dan air matanya meleleh di pipinya. Seusai mengamati tongkat yang ternyata bukan terbuat dari emas, Raden Syahid mengembalikan tongkat itu seraya berkata, “Jangan menangis! Aku kembalikan tongkat ini kepadamu.”

“Aku menangis bukan karena tongkat yang kau ambil paksa dariku, namun lantaran dosa sesudah aku tak sengaja mencerabut rumput sewaktu terjatuh tadi.”

“Hanya sedikit rumput yang tercerabut, kau sudah merasa bedosa?

“Ya. Sebab aku telah mencerabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikan rumput ini untuk makan ternak, tak apalah. Namun bila rumput ini tak dimanfaatkan untuk suatu kemaslahatan, berdoasalah diriku.”

Mendengar jawaban Sunan Bonang, hati Raden Syahid sedikit tergetar.

“Hei, Kisanak. Sesungguhnya apa yang tengah kau cari di dalam hutan ini?”

“Harta.”

“Buat apa?”

“Aku berikan pada fakir miskin dan orang-orang yang kelaparan.”

“Sungguh mulia hatimu! Namun, caramu keliru.”

“Apa maksudmu?”

“Jawab pertanyaanku! Jika kau mencuci pakaian yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu dibenarkan?”

“Tidak. Karena, hal itu hanya akan menambah kotor.”

“Demikian pula dengan amal yang kau lakukan. Maksudmu ingin beramal sholeh dengan bershodaqoh pada sesama, namun karena caramu yang tidak benar, maka shodaqohmu tidak akan membawa manfaat bagi orang lain. Allah adalah dzat yang maha baik. Dia hanya menerima amal dari barang yang hahal.”

Mendengar penjelasan dari Sunan Bonang, Raden Syahid tercengang. Kesadaran akan perbuatannya yang keliru selama ini mulai muncul dalam jiwanya. Perlahan namun pasti, Raden Syahid mulai tertarik pada lelaki berjubah putih yang wajahnya tampak lembut berwibawa dan mencerminkan jiwanya yang penuh kasih.

“Sekarang banyak hal yang terkait dengan usaha mengentaskan kemiskinan. Namun kau tak bisa mengubahnya hanya dengan memberi orang-orang miskisn itu berupa makanan dan uang. Kau harus memperingatkan kepada para penguasa yang dzhalim agar bersedia untuk mengubah cara pemerintahan yang sewenang-wenang itu. Kau juga harus membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf hidup sendiri. Berdikari. Berdiri dengan kaki sendiri.”

Raden Syahid semakin terpana.

“Kalau kau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu!” Sunan Bonang menunjuk pada buah-buah aren yang sontak berubah wujud menjadi butiran-butiran emas. “Ambilah sesukamu!”

Raden syahid yang terpukau itu kemudian memanjat pohon aren. Namun sewaktu butiran-butiran emas itu akan dipetiknya sontak berubah menjadi buah-buah aren. Mendadak buah-buah aren itu rontok. Berjatuhan bersama jatuhnya Raden Syahid ke tanah. Raden Syahid pingsan dengan kepala tertimpa buah-buah aren itu.

Ketika siuman, Raden syahid bangkit. Mencari Sunan Bonang yang tak lagi berada di tempat itu. Tanpa berpikir panjang, Raden Syahid mengejar Sunan Bonang. Akhirnya, Raden Syahid dapat menyusul Sunan Bonang yang telah berdiri di tepian sungai besar dan dalam. “Tunggu, Tuan. Sudikah Tuan menerimaku sebagai murid?

“Menjadi muridku?” tanya Sunan Bonang. “Kau mau belajar apa?”

“Apa saja asal Tuan sudi menerimaku sebagai murid.”

“Persyaratan untuk menjadi muridku sungguh berat. Apakah kau bersedia memenuhi persyaratannya?”

“Bersedia, Tuan.”

Sunan Bonang menancapkan tongkatnya di tepian sungai. Oleh Sunan Bonang, Raden Syahid diperintahkan untuk menunggui tongkat itu. Raden Syahid tidak diperbolehkan beranjak dari tempat itu, sebelum Sunan Bonang kembali menemuinya. Selanjutnya, Sunan Bonang menyebrangi sungai itu dengan berjalan di atas air tanpa basah sepasang kakinya.

Selepas Sunan Bonang, Raden Syahid bersila dalam hening samadi. Sesudah tiga tahun lamanya bersamadi hingga tubuh Raden Syahid dibalut akar dan rumputan, datanglah Sunan Bonang dan membangunkannya dengan suara adzan. Sesudah Raden Syahid terbangun, dicuci tubuhnya, dan diberi pakaian baru. Semenjak itu, Raden Syahid menjadi murid Sunan Bonang.

.          

Makna Simbolik

Terdapat asumsi bahwa kisah tentang pembegalan yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga terhadap Sunan Bonang bukan kisah sebenarnya. Akan tetapi, kisah tersebut sekadar merupakan pelukisan secara simbolik saat Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang. Guru dan sekaligus kerabatnya sendiri.

Dari kisah di muka yang akan dibeber maknanya diharapkan mampu memberi pencerahan kepada kita semua tentang esensi di balik kisah tersebut. Adapun pembeberan tentang beberapa makna simbolik yang tersirat di balik kisah tersebut, sebagai berikut:

Hutan Jatiwangi

Hutan Jatiwangi sesungguhnya mengandung makna simbolik tentang suatu tempat yang beraroma harum dan berfungsi untuk membeber pengetahuan atau ilmu sejati (ilmu ma’rifat). Dengan demikian, pertemuan antara Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga yang waktu itu menggunakan nama samaran Brandal Lokajaya tidak berada di hutan, melainkan di padepokan. Suatu tempat yang dihormati dan difungsikan untuk membeber ilmu atau pengetahuan sejati.

Brandal Lokajaya

Brandal Lokajaya yang digunakan sebagai nama samaran Sunan Kalijaga sekadar menunjukkan ketersohoran namanya, keunggulan kesaktiannya, serta kedahagaannya terhadap ilmu pengetahuan dari orang lain. Dari sini dapat disimpulkan, bahwa Sunan Kalijaga tidak pernah bermaksud membegal barang, melainkan hanya ingin mencerap ilmu pengetahuan dari Sunan Bonang.

Tongkat emas

Tongkat emas milik Sunan Bonang yang ingin dimiliki oleh Sunan Kalijaga bukan sekadar tongkat terbuat dari emas. Akan tetapi, tongkat emas itu dimaknai sebagai petuah-petuah Sunan Bonang yang dapat digunakan sebagai petunjuk hidup. Petuah-petuah yang bersumber dari suatu pemahaman atas firman-firman Tuhan dalam Al-Qur’an. Petuah-petuah yang hanya dapat dipahami dengan interpretasi jernih dan bukan dengan secara harfiah.

Buah kolang-kaling berubah butiran-butiran emas

Bila hati nurani telah dikuasai oleh hawa nafsu, maka manusia tidak dapat lagi membedakan mana loyang mana emas, mana yang sejati mana yang palsu. Dengan demikian, Sunan Kalijaga yang waktu itu dikuasai oleh hawa nafsunya, maka tidak bisa membedakan lagi mana buah aren dan mana butiran emas. Akibatnya bukan kebahagiaan yang dipetik oleh Sunan Kalijaga, melainkan kesengsaraan yang menimpa dirinya.

Menyeberangi sungai tanpa basah kakinya

Sesudah mampu memberikan penyadaran pada Sunan Kalijaga dari perbuatan buruknya, Sunan Bonang meninggalkannya dengan menyeberangi sungai besar dan dalam tanpa basah kedua kakinya. Artinya, Sunan Bonang telah mampu memberikan penyadaran atau ilmu pengetahuan kepada Sunan Kalijaga tanpa menyingung perasaannya. Apa yang dilaksanakan Sunan Bonang ini selaras dengan peribahasa Jawa: “Entuk iwak, ora buthek banyune.” 

Menunggui tongkat dengan bertapa tiga  tahun di tepian sungai

Sepeninggal Sunan Bonang, Sunan Kalijaga memenuhi persyaratan untuk menjadi muridnya yakni dengan menunggui tongkat dengan bertapa selama tiga tahun di tepian sungai itu. Artinya, Sunan Kalijaga harus tetap teguh seperti tongkat dan tidak tergiur dengan arus zaman di dalam upaya menjernihkan hati dan pikiran. Wadah yang harus dipersiapkan oleh Sunan Kalijaga, sebelum Sunan Bonang mengisinya dengan ilmu pengetahuan sejati. (uaw/plt)

 

Sumber Gambar:

Author:

The Writer which pay attention for the traditional cultures or Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s